Bryan Jevoncia: Juara Lukis PBB
Generasi muda Indonesia yang luar biasa kembali menunjukkan prestasi. Kali ini, giliran seorang bocah berusia tujuh tahun yang berhasil mengharumkan nama negeri. Bocah bernama Bryan Jevoncia tersebut berhasil menjadi juara pertama lomba lukis perangko yang diadakan oleh badan dunia PBB.
Bryan yang mengangkat tema "We can end poverty" atau kita dapat mengakhiri kemiskinan itu menjadi juara pertama International Children Art Competition kelompok umur 6-15 tahun. Lukisan itu sendiri memperlihatkan seorang ibu yang sedang menjahit dengan dibantu oleh seluruh anak-anaknya. Inspirasi itu diperoleh Bryan karena memang ibunya dulu adalah seorang penjahit baju, sebelum kini sukses dengan usaha gorden.
Hebatnya, dalam lomba yang diselenggarakan PBB itu, bocah kelahiran Pontianak dari pasangan Rosina dan Bong Yaw Song itu berhasil mengalahkan 12 ribu karya lebih dari 124 negara peserta. Atas prestasinya ini, lukisan Bryan selain akan dipajang di markas PBB di New York, juga akan dijadikan perangko PBB yang disebar ke seluruh dunia. Ia pun nantinya akan mendapat royalti dari setiap perangko yang dicetak. Bryan juga menerima langsung penghargaan tersebut di PBB pada acara International Day for the Eradication of Poverty 17 Oktober 2007 silam.
Jika ditilik dari usianya, Bryan tak beda dengan anak seusianya. Ia memulai hobi melukis layaknya anak lain, yakni dengan mencorat coret dinding rumah. Hal itu dilakukannya sejak usia dua tahun. Hanya saja, menurut orang tuanya, Bryan sangat unik. Jika lukisannya belum tuntas, ia bisa bangun sendirian di tengah malam, menggambar apa saja di dinding kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga maupun kamar mandi.
Karena itu, demi menyalurkan bakat corat coretnya, sang ayah kemudian mendaftarkan siswa kelas 2 SD Katolik Suster Pontianak ini ke Sanggar Khatulistiwa Children Fun Art. Sanggar itu sebenarnya adalah sebuah kelompok diskusi, di mana anak-anak belajar dalam suasana kekeluargaan yang menyenangkan. Dengan suasana seperti itulah bakat anak kelahiran 12 Desember 2000 ini makin terasah. Ia juga rajin mengikuti berbagai perlombaan lukis. Saat ini, sudah lebih dari 50 penghargaan diraihnya. Dan, yang paling prestisius tentu adalah penghargaan dari PBB yang baru diterimanya.
Sekali lagi, kita patut berbangga, salah satu anak negeri ini kembali berhasil mengukir prestasi tingkat dunia. Kita harapkan, dengan apa yang diraih Bryan, akan mendorong munculnya bibit-bibit unggul lain di berbagai bidang lainnya di negeri tercinta kita ini. Semoga.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Mendapatkan Artikel-artikel Lain Yang Menarik, Silahkan Kunjungi Web Site Portal Motivasi Pertama di Indonesia www.andriewongso.com
Terima Kasih
Salam Sukses Luar Biasa!!
www.andriewongso.com
Sabtu, 27 Oktober 2007
Jumat, 26 Oktober 2007
Sistem Pembelajaran Berbasis TI Indonesia Merambah ke Beberapa Negara
Jakarta-RoL-- Sistem pembelajaran berbasis TI (teknologi informasi) Pesona Matematika dan Pesona Fisika yang diterapkan di SMP Negeri di Provinsi DKI Jakarta dan beberapa provinsi lain semakin merambah ke beberapa negara.
"Media pembelajaran ini sudah sejak 2000 dipakai di SMP-SMP Jakarta, sekarang 'software' buatan putra-putri Indonesia itu mulai dilirik sekolah di Brunei dan Filipina," kata Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Sylviana Murni saat berkunjung ke SMP Negeri 49 Kramat Jati di Jakarta, Jumat.
Dalam kesempatan tersebut pemilik sekolah dari Brunei Musa Adnin dan dari Filipina Jess Ravalo mendatangi SMP tersebut untuk melihat langsung siswa-siswa Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di SMPN 49 memanfaatkan sistem pembelajaran berbasis TI itu.
Dengan sistem pembelajaran pesona matematika dan fisika berbasis TI itu, ujarnya, siswa tidak lagi merasa takut terhadap pelajaran-pelajaran sulit seperti matematika dan fisika dan justru menjadi terkesan dan tertarik. Nilai ujian nasional siswa terus meningkat dari 99,58 pada 2005 ke 99,84 pada 2006 dan pada 2007 naik lagi jadi 99,99, sedangkan untuk pelajaran matematika dan fisika, siswa yang mendapat nilai 10 makin banyak, ujarnya.
"Yang saya banggakan dari sistem ini, software buatan anak bangsa ini semakin merambah ke berbagai negara, termasuk sudah diminati di Eropa dan Amerika Serikat. Ini berarti software ini memang handal," katanya. Dinas Pendidikan Dasar, ujarnya, sudah menerapkan sistem berbasis TI tersebut untuk 164 SMP Negeri di Jakarta, sedangkan untuk SD Negeri sedang dalam proses pengenalan, untuk tahap awal matematika dan IPA untuk 15 SD.
"Sistem pembelajaran dengan TI untuk membuat senang siswa terhadap pelajaran sulit itu memang kami lelang dengan biaya APBD, kebetulan Pesona yang memenangkan," katanya. Sementara itu, menurut Direktur Marketing Pesona Edukasi, Hary Sudiono, dari sekitar 1.500 sekolah yang telah memanfaatkan software tersebut, sebagian di antaranya adalah SMP di provinsi seperti Jawa Barat, Banten dan Yogyakarta.
Disebutkannya, pihaknya hanya menjual software tersebut Rp12 juta per sekolah atau hanya Rp1.500 per bulan per siswa plus paket pelatihan guru, "updating" dan pelayanan purna jualnya. "Tetapi kalau dijual ke luar negeri sistem ini menggunakan lisensi dengan harga 250 dollar AS per tahun," katanya. Sementara itu, Jess Ravalo dari Filipina menyatakan berminat pada piranti lunak tersebut dan akan mencoba menerapkannya di sekolah yang dimilikinya.
"Sistem ini juga membuat interaksi antara murid dan guru sangat aktif. Ini akan sangat membantu pemahaman siswa, bukan hapalan yang biasa kita lihat kalau hanya menggunakan buku pelajaran," kata Musa Adnin dari Brunei.
Software untuk sistem pembelajaran berbasis TI ini juga pernah mendapatkan penghargaan Asia Pasific ICT (Information and Communication Technology) Awards di Macao, katanya.
"Media pembelajaran ini sudah sejak 2000 dipakai di SMP-SMP Jakarta, sekarang 'software' buatan putra-putri Indonesia itu mulai dilirik sekolah di Brunei dan Filipina," kata Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Sylviana Murni saat berkunjung ke SMP Negeri 49 Kramat Jati di Jakarta, Jumat.
Dalam kesempatan tersebut pemilik sekolah dari Brunei Musa Adnin dan dari Filipina Jess Ravalo mendatangi SMP tersebut untuk melihat langsung siswa-siswa Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di SMPN 49 memanfaatkan sistem pembelajaran berbasis TI itu.
Dengan sistem pembelajaran pesona matematika dan fisika berbasis TI itu, ujarnya, siswa tidak lagi merasa takut terhadap pelajaran-pelajaran sulit seperti matematika dan fisika dan justru menjadi terkesan dan tertarik. Nilai ujian nasional siswa terus meningkat dari 99,58 pada 2005 ke 99,84 pada 2006 dan pada 2007 naik lagi jadi 99,99, sedangkan untuk pelajaran matematika dan fisika, siswa yang mendapat nilai 10 makin banyak, ujarnya.
"Yang saya banggakan dari sistem ini, software buatan anak bangsa ini semakin merambah ke berbagai negara, termasuk sudah diminati di Eropa dan Amerika Serikat. Ini berarti software ini memang handal," katanya. Dinas Pendidikan Dasar, ujarnya, sudah menerapkan sistem berbasis TI tersebut untuk 164 SMP Negeri di Jakarta, sedangkan untuk SD Negeri sedang dalam proses pengenalan, untuk tahap awal matematika dan IPA untuk 15 SD.
"Sistem pembelajaran dengan TI untuk membuat senang siswa terhadap pelajaran sulit itu memang kami lelang dengan biaya APBD, kebetulan Pesona yang memenangkan," katanya. Sementara itu, menurut Direktur Marketing Pesona Edukasi, Hary Sudiono, dari sekitar 1.500 sekolah yang telah memanfaatkan software tersebut, sebagian di antaranya adalah SMP di provinsi seperti Jawa Barat, Banten dan Yogyakarta.
Disebutkannya, pihaknya hanya menjual software tersebut Rp12 juta per sekolah atau hanya Rp1.500 per bulan per siswa plus paket pelatihan guru, "updating" dan pelayanan purna jualnya. "Tetapi kalau dijual ke luar negeri sistem ini menggunakan lisensi dengan harga 250 dollar AS per tahun," katanya. Sementara itu, Jess Ravalo dari Filipina menyatakan berminat pada piranti lunak tersebut dan akan mencoba menerapkannya di sekolah yang dimilikinya.
"Sistem ini juga membuat interaksi antara murid dan guru sangat aktif. Ini akan sangat membantu pemahaman siswa, bukan hapalan yang biasa kita lihat kalau hanya menggunakan buku pelajaran," kata Musa Adnin dari Brunei.
Software untuk sistem pembelajaran berbasis TI ini juga pernah mendapatkan penghargaan Asia Pasific ICT (Information and Communication Technology) Awards di Macao, katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)